Seberapa sering kita memaknai kata nikmat dalam surat Al Fatihah? Mari kita ulas sekilas apa saja yang kita lafalkan setiap hari. Karena, sering kali kita melakukannya sebagai kebiasaan.
Tiap pagi, di sekolah anak-anak kita dilafalkan secara berjamaah sebelum memulai pelajaran. Beragam bacaan dan doa dilafalkan murid-murid sebagai bentuk pendidikan adab.
Saking Seringnya, Akhirnya Kering Makna dan Hati Jadi Tidak Peka
Pengulangan ini acapkali membuat hilang rasa seiring perjalanan yang panjang. Makin sering melafalkannya membuat manusia makin lama tidak lagi peka dengan arti dan kandungan isinya.
Jangan sampai karena seringnya kemudian menjadi hal biasa yang tidak bermakna. Hal ini pernah terjadi di masa Bani Israil dahulu.
Banyaknya pelajaran dari para nabi dan rasul di tengah mereka namun bukannya hati mereka makin tunduk justru makin keras.
“Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid 16).
Menyegarkan Jiwa dan Melunakkan Hati
Oleh karena itu, kita sangat membutuhkan penyegaran hati dari waktu ke waktu agar hati kita hidup dan makin insyaf akan kehidupan ini. Kita dari yang mudah dan yang sering.
Ihdinas sirotol mustaqim, sirotolladzina an’amta alaihim ghoiril magdubi alaihim wa lad doolin
Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu (jalan) orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) orang yang Engkau murkai juga (bukan jalan) orang yang tersesat
Ada bagian dari ayat di atas yang membuat penulis akhir-akhir berpikir keras. Yakni ketika himpitan kehidupan makin berat. Kondisi negeri Indonesia yang makin sulit.
Memahami Ujian Hidup Di Negeri Sendiri
Ekonomi makro yang tertekan akibat melemahnya nilai Rupiah terhadap dolar AS. Belum lagi kenaikan harga BBM, PHK tambah banyak, tingginya pengangguran, angka kemiskinan sangat besar, orang terjerat utang/pinjol makin sering serta lesunya perekonomian negara.
Hati kita makin sesak ketika menyaksikan masifnya kasus korupsi, manipulasi dan penyalahgunaan jabatan. Di tengah jerat masalah yang bertumpuk ini, bagaimanakah kita memaknai ayat ‘orang-orang yang Engkau beri nikmat’ kaitannya dengan kehidupan masa sekarang?
Bersambung ke bagian 2 : Siapa Yang Dimaksud Orang Yang Mendapat Nikmat